Menu

KTM Pecat Zarko?

0 Comment

Tidak tersedia berita yang lebih mengejutkan daripada pengunduran diri mantan juara dunia Moto2 dua kali dari Prancis, Johann Zarko dari tim KTM. Mantan juara dunia Moto2 terhadap th. 2015 dan 2016, dan rookie MotoGP untuk th. 2017 pada mulanya telah mengajukan kontrak pemutusan untuk musim 2020, dengan kontrak berakhir terhadap akhir musim 2020, tapi KTM punyai pertimbangan lain. Sebelum acara Aragon MotoGP, Zarko sesudah itu dipecat sebagai pengendara dan tempatnya digantikan oleh Mika Kalio hingga akhir musim. Menurut manajer Tim Red Bull KTM Mike Lietner, KTM tidak mau bersiap untuk melepas suasana mengarah terhadap bahaya. Ketika seorang pengendara menjelaskan bahwa “Saya tidak ingin gunakan sepeda motor”, ini akan mengarah terhadap posisi di mana kami kudu mengayalkan keselamatan pengendara, gara-gara amat berisiko memaksa pengendara untuk melakukan suatu hal yang tidak dia lakukan. suka melakukan.

Dalam pemanasan MotoGP Misano sebelumnya, Zarko mengalami kecelakaan sungguh-sungguh dan untungkan bahwa dia tidak terluka. KTM sesudah itu berpikir, apakah ini jalur yang benar? Setelah Zarko menentukan untuk menghentikan proyek ini, apakah bijaksana untuk memaksanya gunakan enam seri sisanya hingga batasnya? Jadi KTM menentukan untuk mengakhirinya di sini untuk kepentingan ke-2 belah pihak. Johann Zarko adalah pembalap sejati saat ia berhimpun dengan tim satelit Yamaha. Reputasinya saat ini agak sesuai dengan pembalap pemula Fabio Quartarao. Meskipun driver tim satelit, tapi keduanya kerap lebih cepat dari driver tim pabrikan sendiri. Saya tidak mampu mengayalkan bahwa Zarko dan Quartarao saat ini berhimpun dengan tim Yamaha SRT Petronas.

Meskipun penggunaan YZR-M1 “spec B” dengan kecepatan mesin 500 rpm lebih rendah dari motor Rossi, and suspensi dan spesifikasi aerodinamis th. lalu, dijamin bahwa ke-2 pembalap akan senantiasa merokok duo Rossi dan Vinales, Yamaha. pemimpin tim pabrik selama musim. Kedua pembalap ini memang amat cepat dan memang mengenai dengan pembawaan YZR-M1 4 silinder segaris. Inilah sebabnya mengapa banyak orang mengeluh saat Zarko mengucapkan selamat tinggal kepada tim Yamaha Tech3 untuk berhimpun dengan KTM akhir musim ini. Pada saat itu, Zarko berharap spesifikasi YZR-M1 dari pabrikan Yamaha, tapi Yamaha tidak mau memenuhinya. Yamaha tidak mau memberi tambahan spesifikasi pabrikan YZR-M1 kepada pembalap ketiga, meskipun Zarko memahami lebih cepat dari Rossi dan Vinales. Alhasil, Zarko sesudah itu meninggalkan Yamaha.

Saya tidak memahami apakah Yamaha menyesal atau tidak. Tapi yang memahami adalah bahwa hasil Yamaha, dengan dengan duo, pembalap paling penting dari dua musim terakhir, amat memalukan. Musim ini Quartarao dengan YZR-M1 spec B sebabkan nama Yamaha harum. Jika Yamaha tidak menawarkan spesifikasi pabrikan YZR-M1 musim depan, bisa saja ia termasuk akan pergi. Bersama dengan KTM, hasil Zarko musim ini amat mengganggu! Tampaknya Zarko tengah berjuang untuk beradaptasi dengan KTM hingga kelanjutannya Zarko menyerah. Tentu tidak gampang untuk bergeser dari satu tim ke tim lainnya dan itu perlu pertandingan yang susah selama penyesuaian th. pertama. Lihat apa yang berlangsung terhadap Jorge Lorenzo. Pemegang tiga gelar dunia MotoGP ini muncul begitu kuat dengan Yamaha YZR-M1, tapi muncul tidak berdaya saat mengendarai Desmosedici. Di th. pertama Ducati, Lorenzo lebih-lebih menjadi olok-olok fans MotoGP. Baru terhadap th. ke-2 Lorenzo tunjukkan giginya dengan memenangkan sebagian seri MotoGP.

Lihat termasuk Dovizioso, Crutchlow dan lebih-lebih Valentino Rossi saat mengganti tim dari Yamaha ke Ducati. Performa Rossi dengan Ducati lebih-lebih lebih tidak baik daripada kinerja Lorenzo. Saat mengendarai Desmosedici, mbah Rossi muncul seperti “mengendarai unta di Taman Safari.” Hanya satu pembalap di jagat raya yang mampu menjadi juara dunia dengan dua tim berbeda. Casey Stoner pernah melakukan itu dengan Ducati dan Honda. Zarko adalah pembalap cepat seperti Stoner, tapi sayangnya mentalitasnya adalah “tempe” mental, bukan juara mental. Mungkin tersedia sedikit penyesalan bagi Zarko mengapa ia pilih tim KTM gara-gara tim besar Honda pada mulanya memandangnya untuk menukar peran Dani Pedrosa yang pilih pensiun. Namun, menurut Cal Crutchlow, kasus Zarko tidak akan terpecahkan. Dengan mentalitas ini, tetap akan susah bagi Zarko, lebih-lebih jikalau ia pindah ke tim Honda, gara-gara kinerja Honda condong menurun.

Musim ini, Honda memang berkinerja amat buruk. Honda bukan motor terbaik sekarang. Mengenai kecepatan trek lurus, Ducati tetap yang terbaik. Ketika berkunjung ke sudut kinerja, Yamaha saat ini tampaknya menjadi yang terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *